Ulasan Buku: Leaders Eat Last

Hi All, seperti yang gw bahas dalam tulisan sebelumnya, kali ini gw akan mengulas mengenai buku Simon Sinek yang berjudul Leader Eat Last. Seperti potongan tulisan yang gw tulis di post sebelumnya, salah satu hal yang paling gw inget dalam buku ini adalah jangan pernah bekerja di tempat yang toxic. Lebih baik tidak bekerja daripada harus bekerja di tempat toxic. Mungkin menurut beberapa orang atau lebih tepatnya kebanyakan orang lebih memilih bekerja daripada menganggur daripada tidak punya uang namun nyatanya tidak sesimple itu. Buku ini membahas cukup detail mengapa hal tersebut menjadi sesuatu yang rumit ketika kita bekerja di lingkungan yang toxic.

Sebelum memulai membahas lebih jauh tentang buku ini, gw akan foto dulu gambar bukunya biar kalau nanti ada yang mau baca bukunya langsung tau seperti apa covernya.

Covers Leaders Eat Last

Untuk bukunya sendiri, ada sedikit tambahan mengenai resep bagaimana cara menghandle bagaimana millenial hidup bermasyarakat dan bekerja. Hanya saja hal ini tidak akan gw bahas disini ya. Gw akan lebih menekankan mengenai isi utama di buku ini.

Pada saat membaca buku ini awalnya gw menganggap buku ini lebih menekankan pada pendekatan militer karena awalnya diceritakan bagaimana seorang pilot militer mengambil tindakan yang bisa dibilang gegabah karena tidak mematuhi aturan yang ada dan lebih memilih mengikuti intuisinya karena ini berhubungan dengan nyawa tim yang sedang berjuang dibawah sana (Jadi keadaannya sebenarnya sedang ada perang dan pilot bekerja sebagai pemantau dan juga backup bila diperlukan). Tetapi diakhir kisah mengenai pilot ini, penulis menyatakan bahwa konsep militer yang digunakan hanya untuk melebih-lebihkan cerita yang ingin diceritakan walaupun sebenarnya cerita tersebut merupakan salah satu pengalaman nyata yang menjadi pelajaran dari buku ini.

Learn from the Spartan. Seperti yang kita tahu bangsa Sparta adalah salah satu bangsa penakluk yang memiliki kemampuan kerja sama yang sangat baik. Mereka memiliki kode etik yang sangat tinggi ketika harus berperang. Salah satu yang paling penting adalah perisai dalam perang. Dalam kisahnya apabila seorang prajurit kehilangan helm dan pelindung dada, maka sanksi yang diberikan tidak terlalu berat. Sangat jauh berbeda ketika seorang prajurit kehilangan perisainya dikarenakan kehilangan perisai berarti membuat seluruh barisan pertahanan menjadi rapuh. Lalu hubungannya apa dengan keadaan sekarang. Buku ini menceritakan mengenai circle of safety yang berarti keadaan didalam harus kuat terlebih dahulu sebelum melihat ke luar. Mirip dengan cara kerja bangsa Sparta dimana harus melindungi seluruh prajuritnya dengan memastikan bahwa setiap prajurit memegang perisai untuk melindungi sekelilingnya. Tugas utama seorang leader di perusahaan adalah memastikan bahwa setiap anggotanya telah bekerja sesuai dengan porsinya. (Dapat dibaca di buku halaman 27)

Toxic Environment. Seperti yang gw bilang di pembukaan tulisan ini dan secara pribadi gw mengalami ini maka gw bisa bilang bahwa bekerja di tempat yang toxic itu jauh lebih membahayakan daripada tidak bekerja. Toxic yang dimaksud disini adalah sebuah kondisi dimana tidak ada kerjasama, transparansi, leader tidak peduli dengan keadaan timnya dan seseorang hanya bekerja untuk mendapatkan upah bukan untuk pencapaian diri sendiri (kita sedang tidak berbicara mengenai passion disini). Hal ini juga telah dibuktikan dari salah satu penelitian pada tahun 2011 oleh peneliti dari Universitas Canberra yang menyatakan bahwa bekerja di tempat yang tidak membuat bahagia akan membahayakan kesehatan (baik fisik maupun mental) dan bahkan jauh lebih buruk daripada tidak mempunyai pekerjaan. Selain itu, tingkat stress dan kecemasan bagi orang-orang yang bekerja di tempat yang toxic jauh lebih besar daripada mereka yang tidak mempunyai pekerjaan. Bahkan ada penelitian lain dari Universitas London yang menyatakan bahwa mereka yang pekerjaannya tidak diakui di tempat kerjanya lebih mungkin menderita penyakit jantung. Kembali lagi ke cerita awal gw dimana leader di tim gw nyaris tidak ada transparansi, tidak mau diajak kerjasama dan yang paling berbahaya adalah paling merasa benar, membuat gw memutuskan untuk resign. Ketika berbicara mengenai hal ini kepada leader tim lain dan juga beberapa tim people, mereka menyarankan daripada resign lebih baik pindah tim. Setelah gw pindah tim, hidup gw jadi lebih baik, gw tw apa yang harus dikerjain dan yang paling penting, leader tim gw mengakui pekerjaan yang gw kerjakan dan sebagai gantinya adalah sudah tugas gw untuk membuktikan bahwa tanggungjawab tersebut bisa gw kerjakan dengan baik. (Dapat dibaca di buku halaman 33-34)

Our Goals must be Tangible. Manusia pada dasarnya adalah mahluk yang visual oriented. Kita jauh lebih mempercayai sesuatu yang bisa kita lihat dibanding yang bisa kita rasakan dengan indra kita yang lain. Karena manusia adalah mahluk yang visual oriented maka ketika ingin mencapai sesuatu akan lebih mudah kita mencapainya saat kita menuliskan itu di kertas, notes, handphone, dan lain-lain. Hal ini penting karena dengan menulis, kita memiliki tujuan yang bisa kita ukur dan bisa mengetahui apakah tujuan tersebut telah tercapai apa belum. Sebagai contoh, tahun ini gw yakin bisa mendapatkan untung lebih banyak dari saham. Hanya karena gw yakin, itu tidak akan cukup untuk mencapai goals tersebut karena gw tidak menjelaskan spesifik dan gw bisa lupa sewaktu-waktu mengenai goals tersebut. Maka oleh itu, gw harus menuliskan berapa target yang gw ingin capai, dan melakukan review dalam kurun waktu tertentu agar goals tersebut tercapai. Ini juga yang menjadi alasan kenapa visi dari sebuah perusahaan besar harus bisa dibaca oleh mata karena hal itulah yang kita sebut sebagai “visi”. (Dapat dibaca di buku halaman 51)

Generosity and the Trust. Sebagai manusia, pada umumnya berbuat baik adalah sesuatu yang sifatnya default. Dari lubuk hati manusia paling dalam, kita selalu ingin berbuat baik dengan sesama. Hal paling simple adalah ketika kita memang melakukan perbuatan baik dengan tulus dan tanpa sadar seseorang melihat kebaikan tersebut dan memuji perbuatan kita. Hal ini menumbuhkan rasa syukur bahwa perbuatan baik kita ternyata dibayar dengan sebuah pujian walaupun kita tidak mengharapkan sebelumnya. Menurut science, hal ini disebut dengan paying it forward. Sebenarnya ketika berbuat baik, kita juga mengeluarkan hormon oksitoksin yang dikeluarkan ketika melakukan kontak fisik dengan orang lain. Kontak fisik diperlukan dalam membangun ikatan dan kepercayaan, di tengah pandemi ini banyak sekali bisnis deal yang dilakukan secara online. Walaupun bisa dilakukan secara online, hal ini tidak akan pernah menggantikan jabat tangan ketika melakukan sebuah deal. Ketika seseorang berjabat tangan, itu menunjukkan bahwa ada kepercayaan antara kedua belah pihak bahwa mereka telah sepakat untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama dan paham akan resiko yang dihadapi secara bersama-sama pada masa yang akan datang. (Dapat dibaca di buku halaman 62-63)

The Ceramic Cup. Kisah ini menceritakan bahwa jabatan/posisi adalah sebuah amanah. Gw akan menceritakan dengan contoh yang berada di sekitar kita saja. Seperti yang kita ketahui jabatan manager merupakan sebuah posisi yang bisa dibilang prestige oleh sebagian orang. Ketika menjadi seorang manager, maka dia akan mendapatkan banyak perlakuan khusus seperti rasa hormat, priviledge yang mungkin tidak dapat oleh level staff, salary yang lebih tinggi dan sebagainya. Di suatu event, sang manager ini datang dengan undangan dari penyelenggara event sebagai salah tamu penting. Dia dijemput oleh penyelenggara dengan mobil khusus, lalu ketika sampai dalam event tersebut, dia pun datang tanpa melalui proses antri (mengingat event ini cukup prestige, sehingga tamu-tamu lain wajib antri jika ingin masuk). Setelah masuk pun, anggota penyelenggara menyiapkan kopi untuk manager tersebut dengan menggunakan cangkir yang terbuat dari keramik yang sangat bagus. 5 tahun kemudian, sang manager telah berpindah ke perusahaan lain hanya saja kali ini sudah bukan sebagai posisi manager melainkan seorang staff biasa. Dia pun ingin hadir sekali lagi ke event tersebut, hanya saja berbeda saat dia berposisi sebagai manager, kali ini tidak ada satu pun yang menjemput dia. Tidak hanya itu, dia pun harus rela mengantri untuk bisa masuk ke event tersebut. Sesampainya ke dalam venue, dia hanya dapat segelas kopi yang cangkirnya terbuat dari styrofoam. Inilah pelajaran penting yang perlu kita bisa petik bahwa segala sesuatu yang kita peroleh sekarang adalah karena posisi yang menempel pada status kita. Ketika posisi tersebut diambil, maka kalian hanya orang biasa. Cangkir keramik hanya diberikan pada posisi tersebut dan itu akan digantikan posisinya oleh orang lain. Kalian hanya pantas menerima cangkir dari styrofoam. (Dapat dibaca di buku halaman 84-85)

Keep it Real – Bring People Together. Bagian ini merupakan salah yang gw suka dari buku ini. Mengapa? karena pada dasarnya meeting tatap muka itu tidak tergantikan. Setiap hari gw kerja dan ketika meeting layaknya mendengarkan podcast dari rekan kerja. Kami jarang menyalakan kamera bukan karena kami butek, namun karena sinyal internet kadang membuat masalah dengan kualitas meeting kami. Ada yang tiba-tiba internet putus karena nyalain kamera, ada yang suaranya kresek-kresek, bahkan ada yang gambarnya stay karena internetnya tidak stabil. Balik lagi ke isi buku, dunia sekarang sudah bisa terhubung dengan jaringan online, kita bisa memberikan interaksi dengan memberikan like dan share bahkan untuk orang yang kita tidak kenal. Hubungan bisa tercipta secara online, namun hubungan yang sebenarnya hanya akan tercipta ketika bertemu secara tatap muka. Ini terbukti dari komunitas blogger yang melakukan pertemuan setiap tahunnya (biasa kita sebut kopi darat). Kenapa harus bertemu secara offline kalau mereka sebenarnya komunitas online? Karena pada dasarnya, meeting secara tatap muka tidak akan pernah tergantikan. Kita akan tetap ingin datang ke konser daripada menonton live streaming, kita akan selalu memilih untuk jalan-jalan ke luar walaupun sudah ada online tour, kita tetap memilih menonton sepakbola di stadion walaupun menonton dari televisi lebih leluasa. Mengapa demikian? karena kita lebih senang dikelilingi oleh orang daripada sendiri. Di era pandemi, bisnis deal dilakukan secara online karena tidak memungkinkannya untuk bisnis trip. Hanya saja itu bersifat sementara karena bisnis trip tidak mungkin tergantikan. Pada akhirnya orang akan bertatap muka dan teknologi tidak akan bisa menggantikan hal tersebut. Kita butuh berjabat tangan karena itu adalah bukti kita percaya satu dengan lain. Tidak akan ada yang namanya virtual trust. Kehidupan nyata manusia tidak akan dapat tergantikan secara online karena memang bukan disana manusia berada. Manusia hidup di dunia nyata dan tidak hidup di dunia maya. (Dapat dibaca di buku halaman 139-141)

Integrity Matters. Masih terngiang kata-kata Kasino dalam film warkop yang berjudul Malu-Malu Mau bahwa “Kejujuran adalah budi yang paling luhur.”. Dalam buku ini pun mengajarkan bahwa kejujuran memegang pegangan yang penting di dalam kepemimpinan. Dalam perjalanan militer, seorang prajurit yang ingin naik ke level yang lebih tinggi tidak hanya dilatih kekuatannya saja, melainkan kepemimpinan, intelenjensi dan juga integritas. Dikisahkan bahwa ada seorang prajurit yang tertidur ketika sedang berjaga. Ketika ditanya kenapa dia tertidur saat berjaga, prajurit tersebut membantah bahwa dia tidak tertidur. Lalu sang komandan memastikan dengan menanyakan sekali lagi, kenapa tertidur, dan lagi-lagi sang prajurit membantah bahwa dia tidak tertidur. Sampai akhirnya sang komandan menunjukkan bukti bahwa memang prajurit tertidur dan akhirnya si prajurit mengaku bahwa dia memang tertidur. Alhasil dia mendapatkan hukuman dikeluarkan dari kesatuan. Hal ini tentu sangat membingungkan karena tertidur membuat seorang prajurit harus dikeluarkan dari kesatuan. Menurut kolonel, yang dipermasalahkan bukanlah karena dia tertidur, melainkan karena dia tidak jujur. Dalam perang, prajurit harus saling mempercayai antara satu dengan yang lain. Konsekuensi yang sangat besar menunggu apabila dalam prajurit ada yang tidak jujur karena itu ketidakjujuran tidak bisa ditolerir walau sekecil apapun. Dalam bertugas, kita bisa saja salah dan hal itu wajar. Semua ada konsekuensinya, hanya saja ketika hal itu menyangkut integritas maka hal tersebut sudah tidak boleh ditolerir. Kesatuan prajurit itu bagus bukan karena mereka besar, kuat dan tanpa rasa takut melainkan sebagai tim, mereka percaya satu dengan yang lain. Kepemimpinan itu bukan berarti memberikan sesuatu yang ingin kita dengar, melainkan sesuatu yang memang butuh kita dengar. Langkah pertama dari kepemimpinan adalah integritas, sama seperti yang dikatakan Kasino, bahwa kejujuran adalah budi yang paling luhur, lakukanlah walaupun itu sulit. (Dapat dibaca di buku halaman 185-187)

Masih banyak hal-hal yang menarik di buku ini seperti tentang bahwa manusia bukan lah sebuah angka statistik di atas kertas (sangat menggambarkan dengan yang terjadi di era pandemi ini), bagaimana membangun perusahaan yang circle of safetynya kuat, menanggapi layoff dan lain-lain. Semoga dengan ulasan singkat yang gw buat, menumbuhkan semangat para pembaca terutama di era pandemi ini, bingung mau ngapain? membaca buku mungkin salah satu jalannya, selain menambah wawasan, tidak cepat pikun dan juga menghabiskan waktu secara berkualitas.

Leave a Reply