Ulasan Buku: Atomic Habit

Halo All, kali ini gw akan membahas buku lain yang gw baca selama pandemi ini. Setelah kemarin kita membahas mengenai buku Leaders Eat Last yang bisa kalian baca disini, kali ini gw akan membahas buku yang berjudul Atomic Habit. Salah satu yang gw suka dari buku ini adalah bahwa buku ini mengajarkan persistence, lalu jangan pernah meremehkan sesuatu yang kecil tapi dilakukan berulang-ulang (balik lagi persistence) dan bagaimana menjauhkan kita dari kebiasaan-kebiasaan yang buruk. Buat kalian yang ingin memulai kebiasaan baik tapi belum tahu bagaimana caranya, gw akan bantu memberikan sedikit ulasan mengenai buku ini supaya kalian lebih tertarik membacanya dan yang paling penting kalian bisa mempraktekannya dalam kehidupan kalian sehari-hari.

Seperti dalam post yang lalu, sebelum memulai membedah buku ini gw akan post dulu gambar dari buku ini supaya kalian tidak salah beli. (Soalnya di pandemi ini marak vitamin palsu, mungkin buku palsu juga ada). Berikut cover dari buku ini.

Cover Atomic Habits

Small Habits Make a Big Difference.
Dalam perjalanan hidup, kadang kita ingin mengerjakan sesuatu yang sifatnya instan, apalagi sekarang ini semua inginnya instan dan semua orang bisa melihat hasilnya. Padahal sebenarnya untuk membuat perubahan besar, kita bisa memulai hal tersebut dengan sesuatu yang kecil dan bahkan tidak terlihat di awal. Melakukan sesuatu yang tidak terlihat namun dilakukan secara konsisten memberikan dampak yang besar seperti dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

1% Better Every Day

Secara gampangnya adalah ketika melakukan progress 1% setiap hari dalam 1 tahun maka hasilnya adalah 1.01365 atau sama dengan 37.78. Sungguh luar biasa kan? Sebaliknya karena hasilnya ini butuh waktu yang cukup lama dan perlu melakukan sesuatu yang konsisten, biasanya kita cenderung untuk berhenti. Masalahnya adalah kita malah melakukan kebiasaan buruk yang bisa dibilang kecil namun dilakukan konsisten setiap harinya. Sebagai contoh adalah kebiasaan minum boba dan melupakan minum air putih, membuat tubuh kita bekerja tidak semestinya dan berakhir menjadi penyakit ginjal. Kebiasaan seperti itu memang kecil, namun dilakukan secara konsisten membawa pengaruh yang buruk dalam kehidupan kita. Kebiasaan baik akan membuat waktu jadi menjadi sahabat kita, namun kebiasaan buruk akan membuat waktu menjadi musuh kita. Kebiasaan menjadi seperti pedang bermata dua. Pilihan ada di tangan kita. (Dapat dibaca di buku halaman 16-18)

Forget about Goals, Focus on System Instead.
Goals yang clear/tangible adalah sesuatu yang biasa kita jadikan patokan dalam hidup kita. Contohnya adalah gw ingin menjadi seorang trader yang ahli. Dengan menetapkan tujuan yang jelas maka energi yang gw punya akan terfokus pada tujuan tersebut dan membuat hidup menjadi lebih mudah (mudah dalam hal tujuan sudah jelas ya, namun tidak benar-benar mudah). Sayangnya, sebenarnya goals itu tidak terlalu berpengaruh terhadap hasil yang akan kita capai, sistem lah yang berpengaruh besar dalam hal tersebut. Jadi apa sebenarnya perbedaan sistem dengan goals? Goals adalah sesuatu yang ingin kita capai, sedangkan sistem adalah langkah-langkah atau proses yang kita butuhkan agar mencapai goals tersebut. Berarti goals itu tidak perlu donk? Bukan seperti itu konsepnya, goals memberikan kita direction sedangkan yang memastikan itu tercapai adalah sistem. Berikut beberapa hal yang bisa terjadi ketika kita terlalu fokus terhadap tujuan dan bukan sistem. (Dapat dibaca di buku halaman 23-27)

  1. Pemenang atau pun yang kalah sama-sama mempunyai goals. Ya bener tujuannya adalah menang, lalu apa yang membedakan antara yang menang dan kalah? Tentu saja sistem yang mereka gunakan untuk mencapai tujuan tersebut.
  2. Mencapai goals hanyalah momen sementara. Sebagai contoh ketika kalian bisa menurunkan berat badan. Tentunya saat ingin menurunkan berat badan, kalian mengumpulkan semua niat dan pada akhirnya kalian senang karena telah menurunkan berat badan. Tetapi itu hanya sementara, karena jika kita terlena maka pada akhirnya berat badan akan naik lagi. Yang dibenahi adalah pola makan / olahraga / dan lainnya atau sistem yang membuat berat badan kita bertambah.
  3. Goals membatasi kebahagian kita. Sebuah statement yang cukup jelas ya. Gw akan senang kalau berat badan gw turun. Kalau ternyata tidak turun, berarti gw tidak akan bahagia. Dengan membuat sistem untuk menjaga berat badan ideal, gw tidak perlu membatasi kebahagian gw. Berat badan gw bisa naik, namun karena gw punya sistem pengatur pola makan yang baik, gw bisa menjadi bahagia kapan pun gw mw karena dengan sistem yang baik, gw yakin berat badan akan ideal kembali.
  4. Goals terlihat agak aneh untuk jangka panjang. Seperti yang gw jelaskan diatas, gw melakukan apa pun untuk mencapai berat badan ideal atau menurunkan berat badan. Tetapi setelah hal tersebut tercapai, gw kembali menjadi malas terhadap usaha yang gw lakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Berpikir jangka panjang adalah kebalikan dari tujuan jangka pendek. Segala sesuatu bertujuan untuk peningkatan berkala yang tanpa henti.

Make it Obvious.
Sebenarnya part ini di dalam buku cukup panjang, cuma inget, disini gw akan cerita mengenai ulasan yang gw bisa share secara singkat untuk para netizen sekalian. Dalam hukum yang pertama mengenai membuat itu jelas adalah membangun environment yang mendukung kebiasaan yang baik. Sebagai contoh adalah ketika ingin membiasakan diri untuk mengatur pola hidup sehat. Langkah pertama yang diambil adalah menyediakan makanan sehat di meja makan dan kulkas, lalu lebih banyak air putih di kulkas atau di dapur sehingga ketika lapar yang kita makan dan minum adalah makanan dan minuman sehat. Mungkin terkesan sepele, namun ketika yang ada di meja makan adalah junk food dan capcay, yang pasti di makan adalah pasti junk food karena lebih enak. Lalu jika di kulkas ada boba, sudah pasti yang diminum adalah boba terlebih dahulu. Dengan syarat yang sudah tercapai dan lingkungan yang memadai maka untuk menciptakan kebiasaan baik menjadi lebih mudah. Sebaliknya dengan kebiasaan buruk, maka hal yang diperlukan adalah membuat itu menjadi tidak terlihat. Sebagai contoh, gw punya kebiasaan untuk membeli barang-barang yang tidak diperlukan. Hal itu biasa terjadi karena gw suka melihat iklan di instagram. Langkah yang bisa gw lakukan adalah untuk tidak membuka instagram dan apabila perlu, maka gw perlu menghindari/block iklan-iklan yang memungkinkan gw untuk membeli barang-barang yang tidak perlu tersebut. Maka reverse dari make it obvious adalah to Make it Invisible. (Dapat dibaca di buku halaman 59)

Make it Attractive.
Ini adalah hukum kedua untuk membangun habit yang baik, seperti yang pertama, ini adalah ulasan singkat tentang membuat kebiasaan menjadi menarik. Sebenarnya pada bagian ini yang selalu gw inget adalah part dimana kita mengimitasi seseorang/kelompok dan ingin menjadi bagian kelompok tersebut. Sebagai contoh adalah gw ingin menjadi seorang ahli dalam saham. Tentu saja yang gw lakukan adalah membaca buku mengenai saham dan bergabung dengan komunitas-komunitas saham. Dengan bergabung dengan komunitas saham, maka belajar saham jadi menarik menurut gw karena disana memang berisi dengan orang-orang yang memiliki kesamaan yang sama seperti gw. Di komunitas ini juga, membicarakan saham menjadi sesuatu yang normal buat gw karena memang isinya penyuka saham semua. Hanya saja perlu diperhatikan karena walaupun ikut komunitas saham, akan ada perbedaan dimana komunitasnya itu bersifat trading, value investor atau growth investor. Apabila gw yang sudah ahli dalam trading tiba-tiba masuk ke grup value investor, maka akan menjadi challenge sendiri karena secara konsep walau sama-sama bermain di saham, ideologinya berbeda dan mungkin gw yang memang sudah ahli menjadi trader malah menjadi tidak tertarik kembali karena hal tersebut membuat gw terkucil di komunitas saham tersebut. (Dapat dibaca di buku halaman 101)

Make it Easy.
Diantara semua hukum mengenai cara membangun kebiasaan baik yang paling gw suka adalah membuat kebiasaan itu menjadi mudah. Karena jika membangun kebiasaan itu sulit, butuh effort dan perlu konsentrasi tinggi membuat kita menjadi malas untuk melakukan kebiasaan baik tersebut. Salah satu cara membuat itu menjadi mudah adalah menggunakan hukum 2 menit. Untuk melakukan habit yang baik itu cukup dengan 2 menit saja, mungkin akan jadi pertanyaan kalau mudah kenapa harus dilakukan selama 2 menit? Nah berarti kalian semua bisa menjawabnya. Contoh paling mudah adalah ketika kita sedang berolahraga, mungkin kalau harus latihan 1 jam itu terasa berat. Maka mulailah dengan 2 menit terlebih dahulu. Mudah bukan? Tapi ketika sudah berjalan maka kalian akan merasa sia-sia karena sudah persiapan cukup matang kenapa cuma 2 menit, lalu kalian mulai lagi 5 menit bahkan tiba-tiba sudah 1 jam. Sama hal kayaknya gw kalau sedang bersepeda, hal terberat bukan lah 1 jam bersepeda melainkan untuk gowes di 1 km pertama. Hal itu menurut gw cukup berat, tapi ketika sudah lewat, tidak terasa gw sudah melakukan gowes lebih dari 1 jam bahkan sudah hampir 20 km. Gampangnya, lakukan standardnya terlebih dahulu lalu optimize hal tersebut. Gw coba gowes 1 km terlebih dahulu, lalu gw capai 20 km setelahnya. Jadi seperti coding deh, make it right first then make it optimize and finally make it efficient. (Dapat dibaca di buku halaman 141)

Make it Satisfying.
Ini merupakan hukum yang terakhir, jika dibaca di dalam buku, bisa dibilang ini adalah hukum yang menentukan apakah sebuah kebiasaan akan dilakukan berulang kali atau tidak. Ketiga hukum sebelumnya adalah memastikan/meningkatkan keberhasilan dari kebiasaan tersebut. Di bagian ini yang menjadi poinnya adalah menunda kesenangan dan menikmatinya pada masa depan. Yang gw sebutkan barusan adalah sebuah masalah, mengapa demikian? Karena yang gw bilang, kita cenderung menginginkan sesuatu yang sifatnya instan. Sebagai contoh adalah merokok. Kita tau bahwa merokok itu berbahaya dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Tetapi di sisi lain, itu mengurangi stress dan meningkatkan konsenstrasi menurut sebagian orang. Kesenangan yang didapat adalah saat itu hanya saja membuat bom waktu pada masa depan. Oleh karena itu buatlah kebiasaan baik seperti menabung untuk masa depan yang lebih baik. Contohnya, menabung untuk pergi jalan-jalan ke Jepang tahun 2022. Mungkin rasanya tidak instan saat itu ketimbang dibelikan McD, cuma ketika memikirkan perjalanan ke Jepang maka kita merasa bahagia dan akhirnya memilih untuk menabung. Dan poin yang paling penting berikutnya adalah paham bahwa kelewat sekali adalah sebuah kecelakaan, kelewat dua kali berarti mempersiapkan diri untuk menjadi kebiasaan. Contohnya balik lagi kayak gw mw pergi ke Jepang, menabung dan akhirnya malah beli Iphone. Ok ke depan harus menabung lagi, kalau ternyata beli barang lain lagi maka sudah jadi kebiasaan untuk membeli barang yang tidak perlu. (Dapat dibaca di buku halaman 183)

Masih banyak hal-hal menarik yang tertulis di dalam buku ini yang tentu saja tidak mungkin gw tulis ulang di ulasan singkat ini donk. Dengan membaca buku ini gw harapkan kalian bisa memulai kebiasaan baik dan tentu saja membuang kebiasaan buruk. Menggunakan 4 hukum yang disebutkan di atas dan tentu saja dengan persistence, gw yakin kita semua bisa melakukan kebiasaan yang baik dan tentu saja untuk hidup kita yang lebih baik pada masa yang akan datang. Stay Healthy semua ya.

Leave a Reply